ALHAMDULILLAH ANDA TELAH BERPUASA SEHINGGA TELAH MERASAKAN APA YANG ORANG MISKIN RASAKAN SETIAP HARI,MUDAH-MUDAHAN ANDA SADAR DAN BERBUAT AMAL SHOLEH DAN BERSODAQOH

Risalah ke tujuh Mutiara hikmah Ibnu Arabi

Buah-buah Perjalanan

"Perjalanan melihat Allah"

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesunguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (al-Israa' :1).


Malam adalah saat terindah bagi dua pemadu kasih, karena malam mampu menyatukan keduanya. Khalwat atau menyendiri dengan kekasih lebih bermakna di malam hari, agar bisa melihat tanda-tanda ilahiyah dengan cara yang lebih khusus, karena mata tidak akan bisa melihat sesuatu dengan cahaya yang ia pancarkan sendiri, sebab ia akan melihat kegelapan. Kemudian datanglah cahaya yang menjadikannya mampu melihat sesuatu, namun itu bila cahaya tersebut tidak mengalahkan kekuatan cahaya mata. Bila cahaya itu terlalu kuat sehingga mengalahkan cahaya mata, maka mata pun kembali kepada kegelapan karena tidak melihat kecuali cahaya itu, seperti mata yang tidak melihat apapun dalam kegelapan kecuali kegelapan itu sendiri. Mata hanya bisa melihat dengan cahaya yang sedang, sehingga ia bisa melihat cahaya tersebut dan apa-apa yang tersinari oleh cahayanya. Itulah rahasia perjalanan Rasulullah dalam Mi'raj di malam hari, agar nampak olehnya tanda-tanda kebesaran Allah.

Perjalanan itu dimulai dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsha. Masjid adalah tempat sujud seseorang, sujud adalah ibadah. Al-Haram maknanya mencegah dan melindungi. Di situ lah tersimpan makna hakiki dari ibadah, yaitu mencegah dan melindungi. Kemudian dijelaskan bahwa perjalanan itu sampai ke Masjidil Aqsha. Al-Aqsha berarti yang terjauh. Dengan demikian yang dimaksudkan adalah Ibadah sampai ke batas terjauh yang merupakan salah satu sifat-sifat ketuhanan. Itulah mengapa Allah memilih nabi-Nya untuk menjalani dua rantang ibadah tersebut, sehingga mengantarkannya memiliki sifat mahluk termulia, dengan ibadah yang menyeluruh yang memberikannya ma'rifat yang sempurna.

Demikianlah, seorang hamba ketika ia diangkat di atas semua yang wujud dan ketika ia dimuliakan, maka dibersihkanlah kehambaannya dari sifat-sifat ketuhanan dan ketuanan. Dan ketika kehambaan seorang hamba diberi sifat-sifat ketuhanan, maka ia telah dipersamakan dengan tuhannya dan pada saat itulah ia akan menemukan kahancurannya. Allah berfirman "Rasakanlah (siksaan itu, wahai orang-orang yang berdosa) bukankah engkau adalah orang-orang yang mulia lagi bijaksana" (al-Dukhan : 49).@@@

dari : pesantrenvirtual.com

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< KEMBALI