ALHAMDULILLAH ANDA TELAH BERPUASA SEHINGGA TELAH MERASAKAN APA YANG ORANG MISKIN RASAKAN SETIAP HARI,MUDAH-MUDAHAN ANDA SADAR DAN BERBUAT AMAL SHOLEH DAN BERSODAQOH

Risalah ke lima Mutiara hikmah Ibnu Arabi

Buah-buah Perjalanan

Allah berfirman "Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, Dia berkata kepadanya dan kepada bumi :"Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa", keduanya menjawab :"Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui" (Fussilat : 11-12).Allah juga berfirman :"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya". (al-Anbiya : 30)

Kata "kemudian" mengisyaratkan bahwa kejadian tersebut terjadi setelah melewati tenggang waktu penciptaan bumi dan kekuatan-kekuatannya selama empat masa, yaitu dua masa untuk penciptaan zat dan fisik bumi, satu masa untuk kelahirnya yang kasat mata dan satu masa untuk isi dan rahasia-rahasianya, atau dua masa untuk memberikannya kekuatan ghaib dan dua masa untuk memberinya kekuatan lahir.

Lalu terjadilah perjalanan suci Allah dalam menyatukan langit dan menciptakannya. "Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya". Lalu diberikannya kepada langit apa yang diperlukannya untuk perubahan, dari susunan, unsur-usurnya, pergantian dan perubahannya dan perpindahannya dari satu bentuk ke bentuk lainnya, inilah ketentuan ilahi terhadap langit-langit dalam firman-Nya : "Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya", yaitu mengenai sisi rohaniahnya, lalu ditampilkannya pergerakan dalam bentuk orbit di atas angkasa untuk membentuk satu susunan sesuai dengan pola peredarannya. Ketika Allah meyatukan langit dari ketercerai-beraiannya lalu berputar, ia tembus pandang sehingga tidak menghalangi terlihatnya apa yang ada di baliknya, maka kita bisa melihat dengan mata kita gemerlapnya lampu-lampu bintang yang berada di langit ke delapan seakan-akan menghiasi langit dunia ini, Allah berfirman : "Dan Kami hiasi langit yang dekat (dunia) dengan bintang-bintang yang cemerlang". Hiasan untuk sesuatu, tidak selalu berada di dalamnya.

Adapun maksud dari "pemeliharaan Allah" ialah dengan lemparan batu di atas angkasa untuk menghancurkan mereka dari golongan setan yang hendak mencuri pendengaran, maka Allah memberikan untuk mereka batu yang meluncur, yaitu bintang yang mempunyai ekor, membelah angkasa hingga jatuh ke langit dunia. Meskipun demikian tidak sedikitpun terlihat keretakan hingga menyebabkan kebocoran langit-langit tersebut, demikian hingga mereka kembali dengan hina dan lelah.

Kemudian Allah menciptakan di setiap langit dari ketujuh langit tersebut, bintang-bintang yang senantiasa beredar "Semuanya beredar sesuai dengan garis edarnya" (al-Anbiya:33). Demikianlah sebenarnya kegiatan angkasa tidak lain pergerakan bintang-bintang bukan pergerakan langit-langit. Pergerakan-pergerakan tersebut terlihat meskipun berada di langit tertinggi, Allah berfirman "Dan aku hiasi langit dunia", karena mata manusia tidak akan mampu melihat kecuali apa yang ada di langit dunia, itulah mengapa Allah mengungkapkannya dengan kata "menghiasi" tidak dengan kata "menciptakan". Perhiasan tidak selalu merupakan bagian dari sesuatu yang dihiasinya, bala tentara dan kuda merupakan perhiasan kekuasaan namun keduanya berdiri sendiri.

Begitu pula lah, ketika telah sempurna bangunan manusia dan ia mampu berdiri tegak dan Allah telah Menghembuskan keagungan maka terjadilah sebutan untuknya sebagai manusia karena kesempurnaannya dalam menerima rahasia ilahi yang tidak pernah diterima oleh mahluk lainnya. Di sinilah mengapa manusia berhak menempati dua maqam, yaitu maqam "syurah" (simbol) dan maqam "khilafah" (kekuasaan).

Demikian pula, ketika telah sempurna tubuh (manusia yang laksana) bumi, dan telah diberikan kepadanya kekuatan khusus sebagai mahluk yang tumbuh, seperti kekuatan menarik, mencerna, menahan, menolak, tumbuh, menghidupi dan telah disatukan untuknya ketujuh lapisan tubuhnya, yaitu kulit, daging, lemak, keringat, persendian, otot dan tulang, maka naiklah rahasia ilahi yang mengalir di dalamnya melalui sela-sela rohaniahnya menuju alam yang lebih tinggi di atas badaniyahnya, mirip kabut yang naik menembus tujuh langit, yaitu langit dunia yang penuh bintang-bintang dan lampu-lampu seperti kedua mata, kemudian langit hayalan, langit fikiran, langit akal, langit kenangan dan zikir, langit ingatan dan langit keraguan.

Ketika Allah mewahyukan kepada setiap langit urusannya, maksudnya adalah memberikan kepada mata kemampuan melihat sesuatu, kita tidak mampu membahas kaifiyahnya, bagaimana itu terjadi. Kita memahaminya, namun pemahaman kita tidak mampu menghilangkan perbedaan Allah dari alam yang kita lihat, dari khayalan kemustahilan dan dari apa yang mampu dibuat oleh akal kita. Demikian di setiap langit ada yang menyerupainya yang sejenisnya dan penghuni setiap langit tercipta darinya. Mereka terpengaurh kepada keadaan dari tempat ia berada. Allah menciptakan di setiap langit bintang yang beredar di samping juga menciptakan bintang-bintang yang bergerak, itulah sifat-sifat seperti hidup, mendengar, melihat, kuasa, iradah, kehendak, mengerti dan berbicara. Semuanya berjalan sampai masa yang ditentukan. Kekuatan tidak akan melewati apa yang telah menjadi kemampuannya, mata tidak akan mampu melihat kecuali apa yang terlihat, demikian hingga ia kembali dengan hina dengan tanpa menemukan setetespun kebocoran. Akal manusia membenarkan itu semua, dibuktikan oleh ufuk yang ada dalam diri manusia, semuanya atas kehendak Yang Maha Mulia dan Maha Mengetahui.

Inilah perjalanan mahluk-Nya yang membuktikan keagungan-Nya dan mengantarkan kepada terbukanya alam teratas. Mengapa disebut perjalanan yang artinya "terang", karena ia membuka dan menunjukkan akhlaq seseorang, artinya perjalanan akan menampilkan apa yang dimiliki setiap manusia dari akhlaq yang mulia dan tercela. Maka ketika dikatakan perempuan itu terang mukanya, artinya terbukalah parasnya dan terlihat cantik dan buruknya. Allah berfirman "Demi subuh apabila ia mulai terang" (al-Muddatsir : 34) artinya subuh mulai tampak oleh penglihatan. Orang arab juga mempunyai kebiasaan bila ingin mengetahui apakah perempuan menyimpan aib yang dilakukannya, dari raut mukanya yang memerah atau berubah. Allah berfirman "Dan Allah berkata benar dan Ia menunjukkan jalan yang benar" (al-Ahzab : 4).@@@
dari www.pesantrenvirtual.com

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< KEMBALI