ALHAMDULILLAH ANDA TELAH BERPUASA SEHINGGA TELAH MERASAKAN APA YANG ORANG MISKIN RASAKAN SETIAP HARI,MUDAH-MUDAHAN ANDA SADAR DAN BERBUAT AMAL SHOLEH DAN BERSODAQOH

Risalah ke enam Mutiara hikmah Ibnu Arabi

Buah-buah Perjalanan

Perjalanan al-Qur'an

Allah berfirman "Sesungguhnya Aku telah turunkan al-Qur'an di malam Lailatul Qadar"(al-Qadr:1) "Sesungguhnya Aku telah turunkan al-Qur'an di malam yang penuh berkah" (al-Dukhan:3).

Para ahli tafsir mengatakan bahwa maksud dari ayat tersebut bahwa al-Qur'an diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia kemudian diturunkan secara bertahap ke dalam hati Muhammad s.a.w. Kejadian ini terus berulang dan tak akan pernah berhenti selama al-Qur'an dibaca, baik secara diam-diam atau terang-terangan. Hakekat Lailatul Qadar bagi hamba Allah adalah kejernihan dan kebersihan, itulah mengapa Allah mensifatinya "pada malam itu dijelaskan segala perkara yang penuh hikmah".Demikian halnya nafsu, diciptakan di dalamnya perkara-perkara yang penuh hikmah, dibisikkan kepadanya kedurhakaan dan ketaqwaannya. Hati manusia ibarat langit dunia yang diturunkan kepadanya al-Qur'an secara keseluruhan, lalu perlahan menjadi jelas dan terang tergantung kepada penerimanya. Mereka yang menerima dengan matanya tidak sama dengan mereka yang menerima dengan telinganya. Arti bahwa al-Qur'an diturunkan secara keseluruhan ke dalam hatimu, tidak berarti bahwa engkau telah hafal dan merasakannya. Namun artinya bahwa al-Qur'an itu telah kau miliki dan ada pada dirimu, hanya saja kamu tidak mengerti dan tidak menyadarinya. Langit dunia pun demikian, ketika turun kepaanya al-Qur'an, tidak berarti ia menjaga nash-nashnya. Ini permasalahan rohani.

Kemudian bagaimana al-Qur'an turun ke dalam hatimu secara bertahap? Adalah dengan terbukanya tabir yang menyelimuti dan menutupimu. Aku telah menyaksikan itu dalam diriku sendiri dan aku juga telah menyaksikan itu terjadi pada guruku, Abul Abbas al-Uraini dari Andalusia barat yang termasuk orang-orang tinggi dan juga mendengar itu dari banyak orang-orang yang mengikuti jalanku. Mereka menghafalkan al-Qur'an atau ayat-ayatnya dengan tanpa bimbingan guru melalui pengajaran yang biasa kita lihat. Mereka menemukan al-Qur'an dari dalam hatinya, berbicara dengan bahasa al-Qur'an, bahasa Arab seperti yang ada dalam mushaf-mushaf kita, meskipun yang menerimanya orang a'jam (asing yang tidak berbahasa Arab). Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Dhibali bahwa Abu Yazid al-Busthami meninggal setelah menemukan bahwa al-Qur'an muncul di hatinya dengan tanpa dibimbing oleh guru ngaji.

Lantas bagaimana al-Qur'an senantiasa turun dan terus menerus turun ke dalam hati hamba-hamba, adalah karena kejadian itu tidak mungkin terjadi dalam dua masa yang berbeda dan kejadian itu juga tidak mungkin berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Bukankah hafalan yang dimiliki Zaid tidak mungkin berpindah ke Amir. Ketika telinga mendengarkan suara yang membacakan ayat, maka Allah menurunkan ayat tersebut ke dalam hati pendengarnya agar ia menyadari dan menjaganya. Apabila hati tersebut sibuk, maka sang pembaca pun mengulangi bacaannya dan kembalilah al-Qur'an itu turun. Begitulah al-Qur'an turun secara terus menerus dan abadi. Kalau ada orang yang berkata "Allah telah menurunkan al-Qur'an kepadaku" sesungguhnya ia tidak berbohong, karena al-Qur'an senantiasa melakukan perjalanan ke dalam hati dan sanubari hamba-hamba yang menjaganya.

Mengapa Rasulullah s.a.w. ketika datang Jibril kepadanya membawa al-Qur'an.beliau serta merta membacanya bahkan sebelum wahyu itu selesai? Ini karena kuatnya kemampuan batin beliau, hingga mampu menembus apa yang sedang dibawa Jibril a.s. lalu membacanya dan lisannya tergesa-gesa membacanya sebelum wahyu itu selesai. Tidak ubahnya seperti ketika kamu bicara dari apa yang tiba-tiba terbersit di hatimu. Ini sangat sering terjadi pada kita, namun apa yang terjadi pada Rasulullah tentu lebih tinggi dan lebih cepat dari kita. Meskipun demikian, Allah tetap mengajari beliau dengan tata cara yang terbaik "dan janganlah kamu (Muhammad) tergesa-gesa membaca al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukan kepadamu". Allah mengajari beliau bersopan santun kepada Jibril a.s. karena dia lah yang mengajarinya kata-kata yang benar dan indah dengan amal shalih.

Maka sesungguhnya manusia yang sempurna tidak lain adalah al-Qur'an itu sendiri. Ia datang dari dirinya menuju malam yang penuh berkah. Malam itu ghaib dan langit-langit dunia adalah tutup keagungan yang paling rendah, di sana ada penerang dan pembeda, yaitu bintang-bintang. Tergantung hakekat ilahiyah untuk memahaminya. Ia menunjukkan hukum-hukum yang berbeda-beda. Manusia yang memhami itu semua. Bintang-bintang itu senantiasa turun ke dalam hatinya, hingga kemudian menyatu lalu sirnalah dan terbukalah hijab itu, hingga sirnalah ia dari ketentuan "dimana" dan "apa" dan hilanglah keghaiban.

Al-Qur'an yang diturunkan adalah kebenaran, sebagaimana Allah menyebutnya kebenaran, setiap kebenaran adalah hakekat dan hakekat al-Qur'an adalah manusia itu sendiri. A'ishah r.a. pernah ditanyai tentang akhlaq Rasulullah s.a.w, ia berkata "Akhlaq Rasulullah adalah al-Qur'an". Ulama berkata, sesungguhnya A'isyah mengatakan firman Allah "Sesunggunya kamu (Muhammad) berakhlaq mulia" (al-Qalam:4).
dari : pesantrenvirtual.com
Renungilah perjalanan ini, engkau akan terpuji di ujungnya.@@@

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< KEMBALI